Industri Kecantikan Era Digital Harus Tahu Cara “Bersolek”

Industri kecantikan dapat dikatakan sebagai industri tertua yang telah ada sejak dahulu kala, jauh sebelum teknologi ditemukan. Tentunya bukan rahasia lagi jika sejak zaman dahulu pun para wanita telah selalu mencoba merawat kecantikannya. Kebiasaan merawat diri itu berlanjut hingga saat ini, ketika produk perawatan merupakan hasil dari industri kecantikan era digital.

Hanya saja, pada zaman dahulu, perawatan kecantikan merupakan salah satu kemewahan yang hanya dapat dirasakan oleh para bangsawan. Berbeda dengan masa kini, siapapun dapat membeli dan menggunakan produk kecantikan mulai dari makeup hingga skincare. Industri kecantikan era digital diketahui dapat menyediakan produk yang sesuai dengan kebutuhan dan kemampuan masing-masing pembelinya.

Dengan semakin beragamnya produk kecantikan ini, tidak heran jika kolom pencarian internet makin dijamuri oleh produk-produk berupa perawatan rambut, wajah, dan kosmetik. Lonjakan ini semakin terlihat pada tahun 2018, pencarian yang melibatkan produk kecantikan meningkat hingga 1,5 kali dari tahun-tahun sebelumnya.

Dapat dikatakan, persaingan antar merek produk kecantikan semakin besar meskipun jumlah permintaan pasarnya juga semakin besar. Teknologi digital yang saat ini memiliki peran paling besar dalam kehidupan dapat menjadi salah satu cara industri kecantikan “bersolek” dan menjadi produk yang diinginkan oleh para calon konsumen.

Industri Kecantikan Era Digital yang Tumbuh Bersama Internet

Teknologi digital yang membuat nyaris semua orang dapat mengakses informasi apapun ini dapat menjadi salah satu celah bagi industri kecantikan untuk memasarkan produknya. Beberapa pemasaran digital pada industri kecantikan saat ini umumnya sudah dapat ditemukan melalui iklan google ads, review produk lewat blog, hingga video blog dari para reviewer produk kecantikan.

Salah satu yang sangat tinggi popularitasnya saat ini dalam memasarkan sebuah produk kecantikan adalah dengan video blog oleh para reviewer yang lebih dikenal sebagai beauty vlogger. Mereka biasa mengulas produk kecantikan dan memberikan penjelasan mengenai kelebihan dan kekurangan sebuah produk.

Siapapun bisa dan boleh membuat video semacam ini. Hal itu menyebabkan menjamurnya jumlah beauty vlogger yang ada di Indonesia. Diketahui jumlah seluruh kanal yang biasa membahas masalah kecantikan di Indonesia terdapat sekitar 1600 akun. Jumlah yang sangat besar untuk sebuah akun yang spesifik, bukan?

Jika yang memiliki kanal kecantikan sampai 1600 orang, tentunya dapat dibayangkan seberapa besar orang yang melakukan pencarian pada kategori satu ini. Sekitar 45% dari para penonton video Youtube biasa mencari mengenai review sebuah produk, lalu 40% lainnya mencari tutorial makeup yang dapat diikuti. Beberapa kata kunci yang cukup populer dalam pencarian tutorial adalah “make up natural”, “make up korea”, dan “make up pengantin”.

Tidak hanya pada kolom pencarian Youtube, kolom pencarian Google juga cukup meningkat dalam hal pencarian produk kecantikan. Misalnya saja produk sheet mask yang diketahui berawal dari kepopulerannya di Korea, pengaruhnya di Indonesia cukup besar dan membuat pencariannya meningkat hingga 4,8 kali pada tahun 2018.

Tidak hanya itu, produk kecantikan lain yang berawal dari kepopuleran di Korea adalah produk aloe vera. Pada tahun ini, produk aloe vera di Indonesia mengalami peningkatan pencarian hingga 3,4 kali. Selain itu, ada juga produk kecantikan lain yang berguna dalam menghapus kotoran wajah, yaitu micellar water yang tahun ini pencariannya meningkat hingga 2,6 kali.

Tidak hanya pencarian produk kecantikan wajah tetapi juga perawatan rambut yang meningkat, produk sampo hijab juga laris dalam kolom pencarian Google hingga meningkat sekitar 2,5 kali.

Stereotipe yang Berhasil Diubah Industri Kecantikan Era Digital

Merawat tubuh, kulit, wajah, dan rambut tadinya identik pada hal yang berbau feminim dan diperuntukkan bagi wanita. Pada zaman dahulu, kebanyakan pria akan merasa malu dan inferior jika sampai ketahuan suka menggunakan produk perawatan seperti wanita.

Kini, hal itu berubah semenjak masuknya era digital pada industri kecantikan. Dapat dikatakan, stereotipe yang melabeli produk perawatan sebagai suatu hal milik wanita telah hilang dan berganti. Tidak hanya wanita yang dapat menggunakan produk perawatan kecantikan, pria pun kini dapat menggunakannya tanpa rasa malu atau takut dilabeli tidak normal.

Hal ini terbukti pada peningkatan pencarian di Google mengenai produk perawatan tubuh untuk pria. Peningkatannya sepanjang tahun 2018 cukup besar dan signifikan, yaitu sekitar 2,7 kali dari tahun sebelumnya. Tidak hanya untuk produk perawatan tubuh, pria juga mulai memerhatikan kesehatan wajahnya dan meningkatkan pencarian dari kata kunci “perawatan wajah pria” hingga 2 kali lebih besar sepanjang tahun 2018.

Bahkan, yang lebih mengejutkan adalah, pria ternyata jauh lebih banyak menggunakan Google untuk mencari tren model rambut. Hal ini dibuktikan pada data Google Trends 2018 yang menyatakan bahwa kata kunci “model rambut pria 2018” jauh lebih banyak sekitar 1,6 kali dari pencarian kata kunci “model rambut wanita 2018”.

Sebenarnya, semua fenomena ini dapat dikatakan tidak lepas dari fakta bahwa internet merupakan jendela dunia yang baru. Dunia digital dapat membuka dunia menjadi tanpa batas dengan beragam informasi yang bisa didapatkan. Jadi, rasanya tidak heran jika produk kecantikan kini dicari banyak orang.

Para masyarakat era digital diketahui telah lebih peka dan peduli terhadap kesehatan tubuh, kulit, wajah, dan rambutnya. Mereka juga dianggap mengetahui keuntungan dan manfaat yang dapat diambil dari menggunakan produk kecantikan, sehingga lonjakan permintaannya wajar terjadi. Semua berkat informasi yang disuguhkan internet sehingga mampu meyakinkan calon pembeli. Jika para pelakon dalam industri kecantikan era digital mampu mengikuti jalannya tren yang ada dan mengatasinya dengan “bersolek” menjadi lebih kekinian, pasti calon pembeli akan datang sendiri.